AKU BANGGA MENJADI IBU

kb-tk-kreatif-primagama-kentungan-1
Membaca untuk Anak Usia Dini, Bisakah Itu ?
September 5, 2019
kids-funday-kb-tk-kreatif-primagama
KIDS FUNDAY #1 KB TK KREATIF PRIMAGAMA
September 10, 2019

AKU BANGGA MENJADI IBU

illustrasi ibu

Seorang ibu adalah role model buat anak-anaknya, bahkan tak jarang menjadi idola dan sosok yang mereka kagumi. Lalu tanpa sadar, sebagian besar pola pengasuhannya kemudian akan diadopsi oleh anak-anaknya saat mereka berumah tangga dan memiliki anak. Seorang ibu juga adalah Madrasah pertama dalam pendidikan anak oleh karenanya disebut “AL –UMMU MADRASAH AL-ULA” (Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya). Apabila seorang Ibu mempunyai konsep mendidik, mengasuh dan merawat dengan benar, niscaya akan menjadikan kelak anak – anak bangsa yang tangguh dan kuat.

“IBU” ….. Para perempuan, terutama yang sudah menjadi ibu, tidak semata-mata diharapkan perannya mengelola urusan rumah tangga. Namun, juga dalam hal mengasuh serta mendidik buah hati. Para ibu merasa ingin peran pentingnya ini dilakukan semaksimal mungkin.

Di pagi buta, mulai menyiapkan sarapan, memandikan anak, menyiapkan pakaian dan perlengkapan belajar lalu mengantar ke sekolah. Melayani suami, mempersiapkan pakaian rapi dan bersih untuk suami berangkat kerja, lalu memasak dan bersih-bersih rumah.

Siang sedikit, menangani tugas di luar, seperti, membayar rekening listrik, telpon, PAM, dan seterusnya, lalu menjemput anak pulang sekolah. Tak lupa berkomunikasi dengan guru mengenai perkembangan anak, atau sesekali menemani kegiatan ekstrakurikuler anak di sekolah.

Di sore dan malam hari, setia menemani dan membimbing anak belajar dan mengerjakan PR sekolah. Dalam situasi darurat, semisal anak atau anggota keluarga sakit, harus membawanya ke dokter, menebus resep, dan merawat si sakit.

Itulah gambaran kegiatan keseharian sebagian besar perempuan Indonesia yang mendedikasikan segenap waktunya sebagai ibu rumah tangga. Meski terkesan sulit, tetap bisa teratasi. Dulu mungkin peran atau beban perempuan tidak seberat kini. Kecenderungannya, sekarang perempuan makin dituntut untuk dapat melakukan atau berperan dalam segala hal dengan baik, tepat, dan sempurna. Terlebih setelah media sosial kian merajalela di segala usia.

Di sudut lain akan semakin kompleks, seandainya sang ibu juga harus bekerja, apakah itu  demi membantu keuangan keluarga, atau sebagai aktualisasi diri dalam karier. Belum lagi jika ikut terlibat dalam organisasi sosial kemasyarakatan yang cukup menyita waktu dan perhatian. Tentu Ibu pun harus tetap mengurus penampilan dan kesehatan diri, terus mengikuti zaman, tetap updated dengan perkembangan berita, dan rutin menyerap informasi sebagai bekal pergaulan sosial. Di sisi lain, sebagai wanita, harus tetap menjaga stamina dan tetap tampil menarik di depan suami.

Luar biasa memang.. seorang ibu sepertinya bekerja tidak mengenal waktu, bahkan kadang ibu dilarang sakit, karena jika sakit maka dapat dibayangkan bagaimana nanti tugas-tugasnya dapat berjalan. Oleh karenanya seorang ibu sering dijuluki SUPERMOM atau SUPERWOMEN

Jika melihat istilah SUPERMOM atau SUPERWOMEN Menurut psikolog dari biro konsultasi psikologi dan pendidikan Jagadnita, Dra Clara Istiwidarum Kriswanto MA CPBC, erat kaitanya dengan tuntutan menjadi wanita super atau ibu super yakni  mindset mutlak dewasa ini. Terlebih ketika mulai terjadi pergeseran perilaku sosial di kalangan ibu-ibu yang tinggal di kota-kota besar di Tanah Air dalam 10 tahun terakhir.

Variasi aktivitas positif di luar rumah seperti seminar, komunitas baik komunitas arisan, pengajian, pelatihan-pelatihan, kini semakin banyak. Tuntutan pelajaran sekolah dan penyaluran bakat anak-anak juga semakin tinggi sehingga terpaksa anak harus kursus ini dan itu. Lingkup pergaulan komunitas para ibu pun semakin luas. Kondisi tersebut semakin kompleks dengan semakin banyaknya frekuensi wanita modern yang meniti karier sambil berperan penuh sebagai ibu rumah tangga.

illustrasi ibu

Bagaimana menjalaninya dengan senang, ikhlas dan penuh rasa bangga dan keseimbangan, maka yang harus dilakukan IBU adalah :

  1. Memahami ketidaksempurnaan bahwa I’m Not “Supermom”, bahkan boleh kok mendelegasikan ke supporting agent

Berhenti menganggap seolah-olah diri kita adalah “Supermom” sehingga kita tak perlu mengerjakan segala sesuatu sendiri.

Langkah awal adalah mendelegasikan tugas rumah tangga dengan orang yang memang bisa menjadi ‘supporting agent’ kita, seperti pengasuh/asisten rumah tangga. Ada beberapa kriteria pekerjaan yang dilimpahkan, seperti: pekerjaan yang membutuhkan banyak waktu, melelahkan secara emosional, bahkan pekerjaan yang mungkin dianggap tidak nyaman. Tanyakan kepada diri kita, bisakah tugas tersebut digantikan? Apa keuntungan dan kerugiannya? Berpikirlah bijak dan cermat!

  1. Libatkan Anak – anak, tentunya sesuai usia dan pemahaman anak

Selain ART, kita pun bisa melibatkan si kecil untuk membantu pekerjaan rumah tangga sesuai usia dan kemampuannya. Berdasarkan penelitian, anak usia 4 tahun sebenarnya sudah mampu diajak melakukan pekerjaan rumah yang ringan. Kemandiriannya bisa dilatih dengan melakukan tugas-tugas personalnya seperti: mandi, makan, mengambil pakaian, membereskan tempat tidur, membereskan mainan setelah digunakan

 

  1. Lakukan Komunikasi Efektif, ini penting sekali

Selain tugas rumah tangga dan urusan mengasuh anak, persoalan lain yang melanda Ibu adalah bagaimana melakukan komunikasi efektif. Terkadang kita seharian di rumah mengerjakan tugas ini itu, mengantar menjemput anak tapi nyatanya masih merasa kurang berkomunikasi baik dengan suami maupun anak – anak. Yang mesti Ibu lakukan adalah ajaklah mereka berbicara, mendengarkan dan merespon apa yang mereka bicarakan. Menanggapinya secara positif dan mengembangkan empati

 

  1. Coba atur Manajemen Waktu

Mencoba untuk membuat jadwal kegiatan atau aktivitas kerja Ibu secara efektif dan seefisien mungkin, sehingga tugas-tugas Ibu dapat diselesaikan dengan cepat dan tuntas. Jika Ibu bekerja Ada baiknya pekerjaan kantor tak dibawa atau kerjakan di rumah.. Jika sempat juga masukkan kegiatan, yakni :

  1. “Me Time”

misalnya membaca majalah favorit, berdiam di toilet untuk mandi hingga spa, saat berada di mobil dalam perjalanan ke kantor, mendengarkan musik favorit, sekedar minum kopi atau teh. Yang penting efek dari me time ini dapat meningkatkan perasaan bahagia, meningkatkan mood, meningkatkan pemahaman tentang “ke-aku-an” (masalah ekonomi, aspirasi diri, pencapaian, dsb) sehingga pada akhirnya siap terkoneksi kembali dengan orang di sekitar.

  1. “Membangun hubungan sosial”

Di samping berkutat dengan rumah tangga, Ibu juga bisa, kok, menyisihkan waktu untuk sosialisasi., tujuannya  tentu untuk bertukar cerita dan pengalaman, sekaligus membuka diri terhadap hal-hal baru. Bersosialisasi juga bisa dengan cara bergabung ke komunitas yang sesuai minat, mengikuti kelas sesuai hobi, ataupun kursus pengembangan diri. Namun, yang penting diperhatikan dalam konteks ini, seorang ibu  harus mampu mengendalikan diri. Maksudnya, ia harus mampu menolak atau mengatakan tidak dalam menyikapi hal-hal yang di luar prioritas dan prinsip hidupnya. Agree…….

 

  1. Meningkatkan Wawasan dan Pengetahuan

Banyak para Ibu yang merasa sudah tidak “update” dengan perkembangan jaman, padahal jika kita memahami kembali tentang konsep mendidik, yakni dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahuanhu  “Didiklah anak-anakmu agar siap menghadapi zamannya karena mereka kelak akan hidup di zaman yang berbeda denganmu “maka jelas bahwa sebagai orang tua dalam hal ini seorang Ibu dituntut untuk memiliki konsep – konsep mendidik dan membimbing anak yang disesuaikan dengan perkembangan jaman. Jangan sampai anak justru belajar dan mengetahui suatu informasi justru dari orang lain, yang belum tentu kebenarannya. Oleh karena itu seorang Ibu wajib untuk belajar tentang ilmu Parenting, belajar untuk selalu mengupdate apa yang sedang menjadi trend di kalangan generasi muda, belajar dan sharing dengan orang tua – orang tua pembelajar lain, agar selalu update dan kaya akan kemampuan problem solving.

Berbanggalah kita …….wahai ibu. Berbahagia dan bersyukurlah dengan karunia yang besar dari Allah SWT yang telah mengangkat kedudukan Ibu. Allah SWT telah menetapkan bahwa hak Ibu  dalam mendapatkan bakti anak adalah tiga kali hak ayah. Di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terdapat wasiat agar anak-anak wajib berterima kasih kepada Ibu dengan selalu berbakti kepada Ibu , tidak melupakan jasa Ibu yang begitu besar dan tak mungkin terbalas, dan selalu berdoa memintakan ampunan kepada ALLAH untuk Ibunya.

Bunda Rieka

PENULIS

Bunda Rieka Apriani

 (Direktru Sekolah Primagama, Founder Konsultasi Buah Hati, Konselor Tumbuh Kembang Anak dan Remaja)

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *